Petang itu, Pendopo Lawas di Yogyakarta penuh. Bukan hanya karena saat itu ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat, yang mampir tapi juga oleh anak-anak muda buka bersama dengan riuh bersama-sama kawan-kawannya.

Setelah clingak-clinguk kiri kanan, akhirnya ada satu tempat kosong. Aku permisi pada dara cantik yang duduk di sebelahnya. Ia hanya mengangguk, masih sibuk dengan ponselnya.

Sambil menikmati makanan angkringan, aku iseng-iseng bertanya, apakah memang tempat ini selalu seramai ini saat buka puasa. Percakapan pun mengalir ringan, ditingkahi suara musik dari panggung dan riuh tawa dari meja-meja lain.

Pertanyaannya membuat aku terhenti makan. “Mas, mau tanya deh,” kata dara itu. Namanya Imona, “Gimana sih sebenarnya para politisi ini berusaha menarik simpati anak-anak muda, kan banyak orang-orang seperti aku yang gak terlalu peduli politik.”

Imona semula mau menanyakan itu saat bertemu dengan AHY dalam kegiatan temu media dan temu influencer di kedai kopi di sebelah Pendopo Lawas. Imona hadir sebagai salah satu influencer Instagram. Tapi ia tak dapat kesempatan karena waktunya habis.

Ini pertanyaan sejuta dollar. Semua orang yang baca data hasil sensus penduduk tahun 2020 dari BPS, tahu bahwa jumlah penduduk dibawah usia 40 tahun, mencapai hampir separuh populasi Indonesia dan akan terus bertambah seiring bonus demografi yang akan memuncak hingga tahun 2030 nanti. Diperkirakan 65% daftar pemilih tetap (DPT) berasal dari segmen usia 17-40 tahun.

Buat politisi, ini potensi elektoral yang luar biasa. Tidak heran jika politisi-politisi gaek usia 60-an ke atas, belakangan sering muncul mengenakan sneakers, t-shirt dan jaket bomber serta naik motor custom. Entah berapa yang mereka habiskan di klinik perawatan untuk menghilangkan kerut-kerut dan gelambir di wajah mereka.

Ketika AHY muncul di panggung politik nasional tahun 2017, banyak diantara para politisi gaek ini yang mencibir dengan mengatakan AHY masih terlalu muda untuk jadi pemimpin. Sekarang, mereka berlomba-lomba untuk tampak muda.

Imona tergelak ketika aku ceritakan hal ini. “Ya itulah, Mas. Gimana kita mau pilih mereka?”

Ponselnya ia simpan. Aku pun meletakkan piring. Tanda-tanda obrolan mulai seru.

Aku jelaskan bahwa pada pemilu 2024 nanti, bangsa ini membutuhkan regenerasi kepemimpinan nasional. “Bukan hanya karena pemilih muda akan dominan, tapi gimana jika bangsa ini masih dipimpin oleh politisi usia 60-70-an?” Tanyaku, “Imona sekarang 20-an kan?” Sambil tersipu, ia mengangguk.

“Itu artinya dua-tiga generasi di atas Imona. Bagaimana mereka bisa memahami generasi ini?” Tanyaku lagi. Dalam pembagian generasional, biasanya satu generasi diasumsikan berada dalam rentang 15 tahun. Imona mengangguk mengiyakan.

Bandingkan, kataku menunjuk ke arah panggung, “Dengan mas AHY yang baru berusia 40-an.” Kebetulan AHY sedang dipanggil ke panggung. Pengelola Pendopo Lawas ingin menyerahkan t-shirt sebagai cinderamata. Mengenakan kaus Dagadu khas Yogya, celana jins dan sneakers, AHY kelihatan fresh.

“Ia paham persoalan generasi di atasnya yang mulai pensiun, generasinya yang kini banyak menduduki posisi penting di swasta maupun pemerintah maupun generasi di bawahnya, seperti Imona,” kataku, “Bukan hanya faham aspirasinya, tapi juga faham bahasanya, idiom-idiomnya, simbol-simbol visualnya bahkan musik dan film yang disukai generasi ini.”

Imona masih mengangguk-angguk mengiyakan. Semangat tampak dalam kilat-kilat matanya. Lahir di Madiun, Imona lulus sebagai sarjana komunikasi politik di Yogyakarta. Sempat bekerja di perusahaan besar, Imona akhirnya memutuskan untuk menjalankan bisnis sendiri sebagai event organizer. Lalu pandemi menerpa.

“Kembali pada pertanyaan awal Imona, bagaimana caranya menarik perhatian anak muda pada politik,” kataku lebih lanjut, “Kita lakukan semua hal: turun ke lapangan, ketemu orang-orang. There’s something magic in meeting directly with people,” jelasku, pakai Indoglish sedikit, “Lalu kita amplifikasi di media massa maupun media sosial.”

“Tapi politisi yang lain melakukan hal yang sama,” katanya menyergah. Malam makin larut. Riuh belum mereda. “Betul,” kataku. Menarik melihat atensi Imona tak berkurang.

“Kita juga memperhatikan hal yang sama. Apa bedanya mas AHY dibanding tokoh-tokoh politik lain yang notabene adalah pejabat publik? Mereka bisa memanfaatkan jabatannya untuk membuat kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian publik. Praktis pada saat ini, mas AHY adalah satu-satunya tokoh non pejabat publik yang selalu masuk dalam survei elektabilitas nasional.”

“Betul juga ya,” kata Imona. Matanya masih berbinar. Ia memperbaiki kerah blus birunya yang tertiup angin malam. Riuh anak-anak muda membuat kadang kami mendekatkan wajah untuk mendengar lebih jelas.

“Ada faktor yang gak bisa sepenuhnya dijelaskan secara rasional,” kataku. Rasa lapar yang tadi mendera, pelan-pelan reda. “Ada sesuatu pada diri mas AHY yang membuat rakyat suka saat bertemu dengannya. Bukan semata soal ganteng lho,” kataku. Imona terkikik.

“Apalagi Demokrat berada di luar pemerintahan dan kita mengambil posisi berani menyuarakan aspirasi rakyat,” kataku melanjutkan, ”Jadi ada banyak faktor, jadi kita juga melakukan banyak hal, melalui multi platform.” Imona mengangguk-angguk.

“Imona sendiri ingin calon pemimpin seperti apa?” Kataku balik bertanya. Ia agak terdiam. “Apa ya?” Gumamnya. “Yang pasti orang yang mau dengerin kita-kita, mau ngertiin masalah-masalah kita,” jawab Imona.

“Memang apa masalah yang menurut Imona penting?” Tanyaku lagi. Kebiasaan lama sebagai wartawan dulu untuk mencecar pertanyaan, masih saja muncul. “Ya masalah pekerjaan, pengangguran,” katanya. Giliran aku mengangguk-angguk, sambil ambil kesempatan meneruskan makan. Jawaban Imona sama seperti hasil beberapa survei nasional tentang problem yang dianggap paling penting oleh responden. Tapi aku juga mengangguk-angguk karena sate yang aku makan ini rasanya gurih. Padahal kata pedagangnya, dibuat dengan bahan non daging.

Malam semakin larut. Obrolan sebenarnya masih bisa berlanjut. Tapi aku dikasih kode oleh timku untuk mengikuti AHY yang beranjak pergi. Kami bertukar nomor WA, berjanji untuk ngobrol lagi, walaupun entah kapan lagi.

Yang jelas pertanyaan Imona terus menggelitik pikiranku selama perjalanan Safari Ramadan berikutnya. Saat misalnya AHY disambut meriah dan haru oleh jamaah masjid Jogokariyan, Yogyakarta, sebagai cucu Sarwo Edhi Wibowo, atau ketika AHY diterima dengan gegap gempita oleh ribuan warga desa Prawoto, Kabupaten Pati, atau ketika sontak AHY disalami oleh ribuan peziarah saat ikut berdesakan untuk ziarah di makam Sunan Ampel, Surabaya. Di Bima, AHY dielu-elukan ratusan pengunjung pasar Ramadhan.

Memang rupanya ada rindu yang bertalu-talu untuk menyambung lidah rakyat yang kini terasa kelu.

 

Penulis: Kepala Balitbang DPP Partai Demokrat Tomi Satryatomo