Jansen Sitindaon di atas KA Serayu (dokpri)

Oleh: Jansen Sitindaon*)

Pembaca sekalian, ayo angkat tangan siapa yang sudah pernah ke Garut? Saya yakin, jawabnya pasti banyak yang belum pernah ke kota ini. Tebak-tebakan saja ini. Kalau salah ya mohon maaf. Hehee..

Kalau saya jujur, baru pertama ini ke Garut! Tapi kalau makan dodolnya, “Dodol Garut” yang terkenal itu, sering. Tapi dulu ya. Beberapa tahun belakangan ini seingat saya malah tidak pernah lagi makan Dodol Garut ini. Aneh juga memang.

Kalau dulu, lupa juga entah bagaimana prosesnya, Dodol Garut ini seringlah saya makan. Tiba-tiba saja dia ada dirumah, dibawa temanlah, dikasih oranglah, dll. Intinya dodol ini seringlah hadir dihadapan mata saya. Tapi baru saya sadari ketika menulis ini, Dodol Garut ternyata sudah lama “hilang” dari hadapan saya. Rasanya seperti tiba-tiba saja dodol ini tidak pernah lagi muncul di sekitar wilayah edar saya. Semoga cuma saya saja yang mengalaminya. Ataukah teman-teman FB juga?

Coba cek diri sendiri, kapan terakhir makan Dodol Garut ini?

Saya sempat berpikir apa “reputasi” dodol Garut ini lagi menurun ya? Sehingga tiba-tiba saja dia menghilang, minimal dari lingkungan sekitar saya. Cobalah nanti tiba di Garut saya tanyakan dan cari jawabannya.

*****

Kembali ke perjalanan ke Garut. Malam ini saya ke Garut karena besok akan bergabung menemani pak SBY dan Partai Demokrat “Tour the Java”. Pak SBY sendiri ketika tulisan ini saya buat dengan “Bus Demokrat” sudah berada di Tasikmalaya. Setelah sebelumnya sejak tanggal 23 Nopember menyapa masyarakat di Purwokerto, Kebumen dan Cilacap. Dan besok pagi beliau menuju Garut untuk menyapa dan menyerap aspirasi masyarakat disini.

Jarak Jakarta ke Garut ini lebih kurang 220 KM. Saya awalnya pusing juga mau naik apa ke Garut ini. Bawa mobil pribadi tidak mungkin. Karena nanti sejak di Garut saya akan naik Bus Demokrat bersama pak SBY dan teman-teman DPP yang lain menuju kota-kota berikutnya.

Saya kemudian “searching” di internet jenis moda transportasi apa saja yang ke Garut ini. Dan baru saya tahu ternyata ada Kereta Api! Wooww senangnya. Karena kereta api ini anti macet. Awalnya tadi saya berpikir cuma bisa naik bus atau travel saja. Rontok pasti. Apalagi Cikampek lagi macet parah.

Kereta Api apakah itu? Disinilah puncak dari tulisan ini. Semoga bisa jadi inspirasi bagi teman-teman.

*****

Sesudah tahu ada Kereta Api, awalnya saya berpikir pilihan keretanya ini banyak. Bayangan saya sama seperti dulu ketika saya sering naik kereta dari Surabaya menuju Jakarta atau sebaliknya. Ada cukup banyak pilihan dari yang mahal seperti KA Argo Anggrek, Sembrani, Bima, dll. Sampai yang kelas menengah dan murah seperti KA Gumarang, Kertajaya, dll. Kebetulan semuanya pernah saya naiki sesuai perubahan ekonomi “kantong” saya ketika itu. Dari tidak punya uang, mulai punya uang sampai mulai beranjak makmur. Hehee.. Jadi jenis kereta apinya juga mengikuti daya beli. (Nanti kapan waktu saya ceritakan pengalaman saya naik Kereta Api Kertajaya. Dimana di setiap stasiun dari Jakarta menuju Surabaya dia berhenti. Dan penumpangnya penuh sekali sampai harus “gelar koran” di lorong-lorong untuk bisa duduk. Bahkan ketika naik Kertajaya ini saya pernah mempraktikan gaya “bangau terbang”. Istilah penumpang Kertajaya “tempo doeloe” ini. Artinya berdiri dengan hanya 1 kaki menopang tubuh. Saking penuhnya penumpang di kereta ini, sehingga tinggal “satu kaki saja ruang tersisa” karena isinya semua sudah manusia.

Kembali ke cerita Garut. Sesudah mencari informasi ternyata tidak sesuai harapan. Ke Garut ini hanya ada 1 kereta api saja. Tidak ada alternatif lain. Namanya kereta apinya KA SERAYU. Jadwal berangkatnya 2 kali dari Jakarta. Serayu Pagi berangkat jam 9 pagi. Serayu Malam berangkat pukul 21.00. Semuanya dari Stasiun Senen.

KA Serayu ini jenis kereta api EKONOMI. Catat! Bukan Bisnis atau Eksekutif ya. Walau ekonomi tapi ada AC nya. Jadi tidak panas. Harga tiketnya dari Jakarta menuju Garut “cuma” 70 ribu rupiah. Sekali lagi, cukup dengan 70 ribu sudah sampai kita di Garut.

Ketika menulis ini saya sedang berada diatas KA Serayu. Sangat nyaman menurut saya kereta ini untuk ukuran kereta dengan judul “kelas ekonomi” ya. Harus saya tegaskan: ini bukan lagi bayangan kereta ekonomi seperti KA Kertajaya tempo dulu yang saya naiki. PT. KAI sudah berbenah banyak! Kita harus akui itu. Salut untuk KAI. Kami dukung tingkatkan terus layanan perkereta apian di Indonesia.

Jika harus ada masalah (ini mungkin khusus bagi saya saja ya) hanya soal tempat duduk aja sih. Di KA Serayu ini satu baris kursi duduknya 3 orang. Pantat menempel satu sama lain dan saling berhadap-hadapan dengan 3 orang lagi di kursi depannya Jadi 6 orang saling ketemu lututlah. Gampangnya, duduknya mirip kalau kita naik angkot. Lutut ketemu lutut, wajah ketemu wajah. Sempit broooo… ampunn.. belum lagi pantat panas broo.. Apalagi perjalanannya cukup jauh.

Jadi terasanya kereta ini kelas ekonomi cuma di sektor tempat duduk ini saja. Lainnya menurut saya sudah perfecto-lah untuk kelas ekonomi! AC nya cukup dingin, di kafetaria ada jualan makanan dan minuman, sewa bantal murah cuma 7 ribu satu bantal, dan yang utama disetiap tempat duduknya ada 2 charger listriknya. Ini yang penting untuk kita para kaum “homo elektrik” ini kan. Hehee.. Jadi tidak ada cerita kehabisan daya listik. Tulisan ini juga bisa tercipta karena charger yang menempel dibadan kereta ini.

Tujuan akhir KA Serayu ini sebenarnya Purwokerto, namun dia melewati Garut. Itu maka saya naik ini. Selain Garut dia juga melewati Puwakarta, Cimahi, Bandung, Tasikmalaya, dll. KA Serayu inilah satu-satunya kereta api dari Jakarta menuju Jawa Tengah yang melintasi Bandung.

Tips saya naik KA Serayu ini. Jika anda mirip seperti saya dimana duduk harus menghadap ke arah kereta berjalan, kalau tidak pusing bahkan muntah, maka ambillah kursi bernomor ganjil kalau perjalanannya dari Jakarta menuju Garut atau tujuan lainnya. Sebaliknya perjalanan baliknya menuju Jakarta, ambillah kursi bernomor genap. Karena KA Serayu ini kursinya seperti sudah saya jelaskan diatas berhadap-hadapan. Jadi kuncinya: pilih kursi ganjil untuk KELUAR Jakarta. Kursi genap MENUJU Jakarta. Pasti aman dari muntah.

Sebagai contoh pemilihan kursi jika penjelasan diatas sulit dipahami. Karena sekarang pesan tiket Kereta Api di internet juga bisa sekalian milih kursi. Kalau tujuannya keluar Jakarta seperti saya ini misalnya ke Garut, ambillah kursi ganjil nomor 3, 5, 9, 11, 13 dan seterusnya. Kalau nanti balik ke Jakarta ambil kursi genap nomor 2, 4, 6, 8, 10 dst. Itulah rumusnya biar kepala tidak pusing dan mabuk.

Ketika menyelesaikan tulisan ini KA Serayu baru saja berhenti di stasiun Kiaracondong, Bandung. Mungkin sekitar 1,5 jam lagi saya akan kita di Stasiun Leles, Garut. Sampai jumpa ditulisan dan laporan saya berikutnya.

Berikut saya lampirkan foto-foto keadaan naik kereta api ekonomi Serayu malam menjelang dinihari ini. Hidup KAI! Hidup Kereta Api Ekonomi.

–Lupa! Makan saya malam ini nasi goreng Parahyangan yang saya beli di kafetaria kereta seharga Rp. 23.000. Rasanya maknyussss, penambah tenaga melewati malam menyelesaikan tulisan ini.

(NB: karena sibuknya kegiatan, lanjutan tulisan “Menaklukkan Jakarta” serial ke-2 belum bisa saya tuntaskan, sebagaimana permintaan banyak teman-teman. Semoga dalam waktu dekat ini bisa saya release kelanjutannya).

Horasss
–diatas KA Serayu Pkl. 01.15 dinihari.

*) Ketua Departemen Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum DPP-PD; Caleg DPR-RI Dapil Sumut III

Tulisan ini telah dimuat di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213157750123939&id=1400494851