Garuda Pancasila

Oleh : Alkautsar*)

Pentingnya landasan negara sudah dipikirkan oleh Bung Karno jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejak 1918 sudah berpikir meletakkan dasar “Kebangsaan Indonesia” sebagai prinsip pertama bagi negara Indonesia merdeka.

Pancasila ini adalah hasil penggalian dari buminya Indonesia, Bung Karno telah berhasil menggali Pancasila ini setelah tertanam jauh di dasar bumi selama 350 tahun lamanya, ini patut dihargai, bahwa Pancasila adalah alat pemersatu bangsa ini, dan yang lebih penting adalah mengamalkan Pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari untuk mencapai masyarakat adil dan makmur bedasarkan keadilan sosial.

Tanpa sebuah alat pemersatu, sangat sulit untuk meraih satu cita-cita kemerdekaan dan mana mungkin bisa mempertahankan keberlangsungan bangsa yang sangat satu ini. Dengan begitu banyak suku bangsa, agama, bahasa, pemikiran dan gagasan, jika tidak diberi sebuah dasar dalam menyusun masa depan bangsa ini, maka sudah pasti bangsa ini tidak akan bertahan lama. Di sinilah perlunya sebuah dasar untuk menyusun sebuah negara sebesar Indonesia ini.

Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terbesar keempat dunia, ada 260 juta jiwa penduduk dengan 300 etnik yang berbeda beda, beragam macam agama dan aliran kepercayaan serta bahasa yang berbeda-beda. Hal ini semua menjadi satu dalam payung yang disebut negara Indonesia. Hal ini juga dijelaskan Bung Karno pada pidato 1 juni 1945, Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu golongan tetapi Negara Indonesia adalah negara semua untuk satu.

Dalam konteks keIndonesiaan, sebenarnya nilai-nilai tersebut sudah ada, yakni “Pancasila”. Pancasila adalah sebuah ideologi khas keIndonesiaan yang nilai-nilai di dalamnya adalah intisari ajaran semua kepercayaan. Selain itu, spirit-spirit yang terkandung di dalamnya adalah spirit kemanusian yang luhur. Untuk itu, pengamalan etika dan moral Pancasila dalam konteks ini menjadi penting.

Pancasila merupakan sebuah rumusan yang diambil dari nilai-nilai kebaikan serta kemanusiaan universal. Pancasila tidak memihak pada salah satu agama atau suku tertentu. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang mampu diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Dalam pidato 1 Juni 1945 tersebut, Bung Karno mengajukan 5 prinsip, yakni (1) Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme atau perikemanusiaan; (3) Mufakat atau demokrasi; (4) Kesejahteraan sosial; dan (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Jika diperas dari lima menjadi tiga yakni sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan ketuhanan. Jika diperas lagi dari tiga menjadi satu, maka dapatlah menjadi Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong royong.

Saat ini Indonesia sedang mengalami situasi sulit karena menghadapi dua persoalan besar. Pertama, stagnasi pertumbuhan ekonomi yang berdampak ril pada masyarakat Indonesia. Di bawah pemerintahan Jokowi, ekonomi Indonesia hanya bergerak di angka 5 persen, hal ini mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat serta berimbas pada pendapatan negara secara akumulatif. Di sisi lain sistem perekonomian yang amat liberal selalu berhasil menyelinap di setiap paket kebijakan politik ekonomi. Sistem ini pada akhirnya memunculkan ketimpangan dan kemiskinan. Kedua, penegakan hukum yang tidak berkeadilan. Kasus HAM masa lalu yang hanya menjadi cerita tanpa ada penyelesaian konkret hingga persoalan korupsi yang semakin memuncak. Hal ini berakibat pada tingkat kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum hingga kesejahteraan masyarakat yang perlahan dirampas dengan tindakan tersebut.

Kedua persoalan tersebut sangat bertentangan dengan nilai Pancasila.

Pada dasarnya Pancasila memiliki dua sifat, pertama sebagai dasar berbangsa negara. Ini merupakan hal yang mutlak/statis tidak dapat diubah dengan dalih apa pun. Kedua pandangan hidup/dinamis, Pancasila sebagai penuntun arah.

Cita-cita Pancasila yang begitu besar yaitu masyakat adil dan makmur dapat terealisasi jika kedua hal ini dapat berjalan beriringan dalam berbangsa dan negara.

Sudah saatnya pemerintah mencoba kembali membuka diskursus Pancasila agar roda pemerintahan dapat berjalan sesuai dengan prinsip, dan cita-cita bangsa itu sendiri. Kemudian pemerintah juga perlu menghentinkan narasi-narasi ahistoris yang menyesatkan.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyatakan bahwa agama adalah musuh Pancasila. Ini sangat disayangkan. Seorang akademisi yang duduk pada jabatan yang cukup strategis tapi tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup, cendurung ahistoris dan menyesatkan.

*)Warga Negara Indonesia; Kader Partai Demokrat