Presiden RI Joko Widodo saat menerima kunjungan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, 9 Maret 2017. (Foto: Jawa Pos)

Jakarta: Pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden RI ke-6 (2004-2014), yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dinilai perlu dilakukan menyusul komentar kontroversial Victor Laiskodat yang menyeret sejumlah partai. Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menyebutkan pertemuan dari kedua tokoh tersebut bisa menurunkan tensi politik yang kian memanas.

“Mengingat Jokowi adalah presiden terpilih yang menggantikan posisi SBY, seperti ibarat pertemuan Obama dan Trump di Amerika Serikat. Setiap ada persoalan kebangsaan yang serius, mereka bertemu,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (5/8).

Masyarakat, menurut Pangi, tentu tidak menginginkan suasana kesejukan bangsa terganggu dengan pernyataan dan fitnah dari Victor. Pembicaraan dalam pertemuan kedua tokoh tersebut bisa membahas hal-hal yang belum ada titik terang, dan masih terdapat perbedaan sudut pandang, perspektif dan belum ketemu jalan keluarnya, serta masih terkesan terdapat perbedaan pendapat yang cukup tajam.

Menurutnya, pertemuan dua tokoh tersebut paling tidak bisa menyejukkan suhu politik di tengah turbulensi politik yang kian tak menentu. “Karena terkadang dalam kondisi bangsa dan negara seperti ini, dari pertemuan suasana makan yang hangat dan bersahabat, bisa memunculkan solusi atau jalan tengah untuk mengurai problem fundamental yang sedang dihadapi bangsa,” papar dia.

SBY beberapa waktu lalu, sempat bertemu dengan Jokowi. Saat itu, SBY bertemu dengan Jokowi untuk mengklarifikasi sejumlah tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan juga Demokrat. Sejumlah tuduhan yang dimaksud yakni terkait tuduhan mendanai aksi damai 411, inisiasi gerakan makar, serta adanya rencana pengeboman di Istana Merdeka.

Namun, pertemuan jilid dua ini, menurut Pangi, akan menjernihkan suasana kebangsaan dan diharapkan tidak ada lagi Victor-Victor lain pascapertemuan kedua tokoh bangsa tersebut.

Sebelumnya, pernyataan Victor menuai kontroversi saat berpidato di NTT. Dalam potongan video yang beredar, Jumat (4/8), politikus Nasdem itu diketahui menyebut Partai Gerindra sebagai salah satu partai yang mendukung kelompok ektremis Islam di Indonesia. Selain Gerindra, Victor menyebut sejumlah partai lainnya seperti Demokrat, PKS, dan PAN.

(republika/dik)