Foto bersama Ketua Komisi X Teuku Riefky Harsya dengan pengurus Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Ruang Komisi X DPR RI,Selasa (6/6/2017)

Jakarta: Komisi X DPR RI mendukung usulan pencalonan Laksamana Malahayati sebagai Pahlwan Nasional sesuai prosedur yang berlaku. Selanjutnya Komisi X akan meminta pimpinan DPR RI untuk mengeluarkan surat rekomendasi terhadap usulan tersebut.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi X Teuku Riefky Harsya usai acara audiensi Komisi X DPR RI dengan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada Selasa 6 Juni 2017 di Ruang Komisi X DPR RI. Kowani yang dipimpin langsung Ketua Umum  Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, menyampaikan usulan yang sebelumnya sudah diwacanakan: mengangkat Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional.

‘’Dengan segala hormat, pencalonan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional memang sangat layak. Patut diperjuangkan,’’kata Riefky tentang usulan Kowani dalam RDP yang juga dihadiri keturunan langsung Malahayati, Tengku Putroe Safiatuddin Cahaya Nur Alam,  yang juga cucu langsung Sultan Aceh terakhir, yakni Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah; serta Kolonel TNI AL Syarif.

Sebelumnya, Giwo Rubi menyampaikan bahwa Kowani merupakan organisasi yang mewakili dari segala unsur, golongan, agama, suku. Berdiri sejak 28 Oktober 1928, organisasi ini berusaha terlibat dalam berbagai bentuk partisipasi untuk meningkatkan harkat martabat perempuan nasional. Termasuk memberikan penghargaan yang selayaknya kepada para pahlawan perempuan.

‘’Dalam hal usulan kami untuk mencalonkan Laksamana Malahayati, tentu ini sudah melalui kajian mendalam. Malahayati adalah panglima perang muslimah pertama di Indonesia dan beliau tidak pernah kalah berperang. Kita berharap, Hari Pahlawan nanti, 10 Nopember 2017, sudah bisa dikukuhkan,’’ kata Giwo.

Kowani sendiri, sudah melakukan tahapan seharusnya untuk pengusulan ini. Mulai dari pengumpulan dokumen, foto-foto, wawancara ahli waris, wawancara tokoh masyarakat, dokumen di Eropa hingga ziarah kubur ke makam ahli waris terdekatnya.

“Bersadarkan data yang kami kumpulkan, Laksamana Malahayati sangat patut untuk diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia,” kata Giwo lagi.

‘’Kami tentu akan mendukung dan mendorong agar ini terwujud. Kami apresiasi Kowani yang telah melakukan pengumpulan data, atau tahapan yang diperlukan untuk pencalonan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional. Insya Allah, bisa,’’ timpal Riefky.

Salah satu catatan heroik Laksamana Malahayati adalah ketika kibaran bendera armadanya di kawasan Selat Malaka pada abad ke-16 M membuat ciut armada Portugis dan Belanda. Berulangkali armada Malahayati berhasil memukul mundur pihak asing yang ingin menguasai jalur perdagangan laut dan kekayaan alam di ujung barat Nusantara.

Malahayati dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia, yang memimpin sekitar 100 kapal perang, dengan kekuatan puluhan ribu pasukan “inong bale” (para janda perang). Ia juga dikenal sebagai tokoh pemberani, mampu membangkitkan semangat pasukan, ahli strategi dan diplomasi.

Inilah antara lain, yang disampaikan Giwo Rubianto dan sejarawan Aceh Pocut Haslinda, pada saat rapat dengar pendapat (RDP) tersebut. Turut menghadiri rapat ini para tokoh Aceh, seperti Fikar Weda (budayawan), Royes Ruslan (DPRK Kota Banda Aceh),  dosen Institut Seni dan Budaya Indonesia-Aceh, Dedy Afriadi dan Teuku Teuku Afifuddin.

Teuku Riekfy, yang juga anggota DPR Fraksi Partai Demokrat dari Dapil Aceh, menyampaikan bahwa dalam rapat tersebut, banjir dukungan disampaikan oleh berbagai fraksi. Di antaranya dari Popong Otje Djunjunan dan Marlinda Abdullah Puteh (Golkar), Latifah Sohib dan Arzeti Bilbina (PKB), Dadang Rusdiana (Hanura), Amran (PAN), Anwar Idris (PPP), Muslim (Demokrat), dan Sutan Adil Hendra (Gerindra).

(fraksidemokrat)