Oleh: DR Hinca IP Pandjaitan XIII*)

Senin pagi, saya memulai hari dengan tidak semangat. Liverpool terpental kala sebuah klub Kota Manchester berhasil melakukan kudeta di Anfield. Linimasa twitter cukup banyak dengan cemooh dan kritik pada the reds yang seolah kehilangan kepercayaan diri pada awal tahun 2021 ini. Titel juara bertahan nampaknya –tidak lagi- membuat takut lawan yang datang. Inkonsistensi mental bertanding seperti ini bukan hal baru bagi kopites. Sewindu yang lalu, tepatnya musim 2012/2013 Liverpool menempati posisi ke delapan. Jumlah kemenangan yang diraih hanya setengah dari jumlah sang juara, Manchester City. Apa yang dilakukan Liverpool pada musim berikutnya? Comeback! Liverpool ‘hampir’ juara, andai tidak ada insiden terpelesetnya sang kapten Gerrard saat itu.

Kembali pada persoalan inti tulisan saya kali ini. Senin ini saya tergelitik oleh sebuah artikel yang menaruh judul “Partai Tanpa Tulang Belakang”. Tulisan tersebut memang sebuah opini dari penulisnya yang menurut saya berangkat dengan judul yang menggertak, namun sangat disayangkan opini tersebut memiliki penutup yang sangat dangkal.

Sang penulis berangkat dengan tema gerakan kudeta oleh sekelompok orang yang mencoba melakukan penetrasi ke internal Partai Demokrat dengan maksud melakukan KLB dan menaruh seseorang sebagai nahkoda yang baru. Penulis itu menyiratkan kritiknya dengan dua kata yakni “gembeng dan kolokan”. Lebih lanjut, ia menyerukan agar Demokrat untuk “melawan”. Itu adalah dasar yang membuat saya tergerak untuk merapikan cara pikir sang penulis.

Pertama, menyoal gembeng dan kolokan. Penulis ini mungkin memilih kedua diksi tersebut untuk mengganti kata “Baper”. Rasanya sudah lama Demokrat (khususnya) Pak SBY disematkan kata- kata tersebut. Kata Baper menjadi populer sekali dalam kancah politik, khususnya oleh BuzzeRp. Kala menanggapi konfrontasi, tentu ada pembelaan yang diucapkan. Itu adalah naluri yang lahiriah dari seseorang manusia. Namun tindakan elegan seperti melakukan konferensi pers, membuat twit dan upaya lainnya demi meluruskan persoalan-persoalan tetap saja diberi label “baper” oleh mereka.

Telah terjadi pergeseran leksikal terhadap kata Baper. Dulu, ketika seseorang melakukan kesalahan di luar batas atau bahkan tidak dapat ditoleransi lagi, maka akan hadir “permintaan maaf” dari yang bersangkutan. Namun hari ini, ketika kesalahan itu dilakukan seseorang maka sang korban yang berupaya membela diri akan disebut “baperan”. Lucu bukan? Tapi begitulah perubahan yang terjadi pada masa sekarang. Kata maaf perlahan menjadi punah, di saat kata baper mekar di mana-mana.

Gembeng dan Kolokan itu sangat tidak masuk akal dituliskan dan ditujukan kepada Demokrat. Ketua Umum AHY yang mengundang pers untuk mendengarkan kronologi kudeta adalah bentuk perlawanan.

Kedua, menyoal “perlawanan” yang disarankan oleh si penulis terhadap Demokrat. Harus saya katakan bahwa tulisan ini cenderung kekurangan sumber. Penulis mungkin malas. Cukup mengherankan bagi saya bahwa upaya yang dilakukan Demokrat melalui mimbar di halaman kantor partai tersebut tidak dianggap perlawanan. Keberanian AHY untuk menyuarakan persoalan tersebut adalah cikal perlawanan atas percobaan kudeta yang datang dari salah satu pembantu Presiden di Istana. Tidak ada yang ditutupi, bahkan sejumlah pengamat politik menganggap perlu melakukan klarifikasi kepada Presiden, itu disebut langsung oleh Mas Burhanuddin Muhtadi.

Etika buruk melalui upaya kudeta tersebut jelas sudah kami lawan dengan penyampaian terbuka. Seperti yang banyak dilakukan oleh pahlawan nasional negeri ini. Beberapa diantara mereka melakukan perlawanan melalui mimbar. Salah satunya ialah KH Zaenal Mustofa, pahlawan asal Tasikmalaya. Ia kerap berdiri diatas mimbar untuk menunjukan sikap perlawanannya pada penjajah lewat banyak khutbahnya. Sampai akhirnya ia juga melakukan perlawanan fisik bersama santri-santri yang ia bina. Tentu, kami tidak sejauh itu untuk melakukan perlawanan fisik. Sebab persoalan yang ada saat ini adalah tentang nihilnya etik.

Terakhir, kudeta tersebut pada akhirnya terungkap. Kudeta itu mati langkah. Sang inisiator kudeta tidak mampu lagi bergerak ke depan karena kader-kader Demokrat impulsif menyatakan kesetiaan. Mereka juga kini menunduk malu untuk berjalan ke belakang, ke kiri maupun ke kanan, apalagi “sang ayah” sudah menegur anaknya. Perlawanan ini bukan saja sudah dilakukan, tapi ternyata Demokrat memenangkannya. Sekian.

Medan, 8 Februari 2021

*)Anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrat; Ketua Dewan Kehormatan DPP Partai Demokrat