M. Zakiy Mubarok (ist)

Oleh : M. Zakiy Mubarok, SH*)

Belum lama ini saya ke toko buku di lantai dasar Plaza Festival Kuningan Jakarta. Setelah melihat beberapa buku, perhatian saya tertuju pada buku berjudul “Dari Kilometer 0,0” tulisan Andi A. Mallarangeng. Mungkin bagi sebagian orang, ini buku lama. Tapi saya, tak mengenal buku lama, karena setiap buku selalu punya makna. Buku ‘Dari Kilometer 0,0’ disusun saat penulisnya menjadi Juru Bicara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), salah seorang putera terbaik yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Menjadi seorang Juru Bicara Kepresidenan pasti tidak mudah. Harus melewati berbagai pertimbangan yang sangat ketat. Ia tidak saja harus memiliki kemampuan intelektual dan emosional yang baik, tapi mampu secara efektif dan efisien menerjemahkan ucapan, tindakan, dan kebijakan presiden di satu pihak, dan memahami kebutuhan publik akan informasi seputar dinamika kenegaraan di pihak lain. Ia dituntut berpikir cermat dan bertindak cepat setiap saat. Tidak boleh ada isu atau informasi yang dibiarkan berlalu. Khususnya terhadap isu atau kejadian dan peristiwa yang menjadi perhatian publik.

Karena seorang Juru Bicara Kepresidenan adalah pejabat yang ditunjuk oleh Presiden dengan fungsi untuk menyampaikan berbagai komentar resmi atas nama Presiden. Penjelasan yang saya kutip dari wikipedia itu sesuai dengan pengalaman yang dituturkan Andi A. Mallarangeng dalam kata pengantarnya di buku “Dari Kilometer 0,0”.

Andi A. Mallarangeng menuturkan, sebagai Juru Bicara Kepresidenan, hampir setiap hari dirinya diminta media massa menjelaskan kepada publik berbagai hal mengenai ‘posisi presiden,’ ‘seputar istana,’ ‘komentar dan respons Presiden,’ atau pun ‘penjelasan istana.’ Penjelasan yang diberikan biasanya melalui wawancara, atau keterangan pers. Terkadang dengan menulis kolom dan artikel agar lebih sistematis dan utuh. Dan setiap saat selalu saja ada kejadian-kejadian penting atau unik dan menarik di seputar Presiden SBY yang rasanya perlu diketahui publik. Semua itu tak lepas dari pribadi Presiden SBY yang inspiratif, genuine, pekerja keras, dengan kepemimpinan yang tak pernah surut menghadapi tantangan, yang melihat solusi di setiap permasalahan.

Masih Kata Andi A. Mallarangeng, salah satu kewajiban presiden negara demokratis yang dipilih langsung oleh rakyat, adalah menjelaskan kepada rakyatnya dari waktu ke waktu tentang kebijakannya, pikiran-pikirannya, tindakan-tindakannya, melalui berbagai media. Tugas Juru Bicara Kepresidenan adalah membantu presiden untuk mengkomunikasikannya secara lebih luas dan efektif. Komunikasi politik yang baik adalah kewajiban akuntabilitas seorang presiden kepada rakyat yang berdaulat.

Dari Kilometer 0,0 karya Dr Andi A Mallarangeng

Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia pasca reformasi mencatat sejumlah nama dengan jabatan Juru Bicara Kepresidenan. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ada nama Wimar Witoelar, Adhie Massardi, Yahya Cholil Staquf, dan Wahyu Muryadi. Pada masa Megawati Soekarnoputri, meskipun posisi juru bicara ini tidak begitu jelas tapi kita mengenal nama Pramono Anung, Sutjipto, Roy BB Janis, dan Bambang Kesowo. Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juru bicara kepresidenannya ada Dino Patti Djalal, Andi Alfian Malarangeng, dan Julian Aldrin Pasha. Di era Joko Widodo (Jokowi) awalnya tidak memiliki juru bicara sampai sekitar 12 Januari 2016 diangkat Johan Budi sebagai juru bicara kepresidenan dengan sebutan staf khusus komunikasi presiden. Dan di periode kedua ini, kita mengenal nama Fadjroel Rachman sebagai juru bicara Presiden Jokowi.

Tapi rasa-rasanya, di masa Presiden SBY lah publik sangat akrab mendengar nama Juru Bicara Kepresidenan, seperti Andi A. Malarangeng, Dino Patti Djalal, dan Julian Aldrin Pasha. Hal ini bisa jadi karena peran optimal yang diberikan oleh Presiden SBY dan mereka pun melakukan peran itu dengan baik. Sehingga hampir setiap saat kita menyaksikan para Juru Bicara tampil di media massa, memberikan keterangan pers baik yang sifatnya informatif, direktif, atau klarifikasi terhadap perkembangan sesuai arahan dan pesan Presiden SBY. Hal ini sekaligus menunjukkan salah satu kelebihan SBY sebagai seorang pemimpin sekaligus negarawan yang cermat dalam menempatkan orang di tempat yang tepat.

Hari ini, bangsa dan negara kita serasa dikepung oleh berbagai isu (untuk tidak mengatakan masalah) yang amat kompleks. Mulai dari soal Jiwasraya, Asabri, OTT-nya salah seorang anggota KPU, konflik Natuna, polemik soal peraturan perundang-undangan yang sudah dan akan diberlakukan, sampai bermunculannya “kerajaan-kerajaan” baru di tanah air. Tapi belum pernah atau jarang sekali Juru Bicara presiden tampil untuk turut menengahi komunikasi antara keresahan masyarakat di satu pihak dan respon pemimpinnya di pihak yang lain.

Bukankah seorang Juru Bicara Kepresidenan selalu mendampingi aktivitas Presiden kemanapun dan dimanapun, baik saat sang Presiden sebagai Kepala Negara/Pemerintahan, maupun saat berperan sebagai warga masyarakat dan kepala keluarga. Artinya, dalam aktivitas pendampingan ini, pasti terjadi diskusi dan tukar pikiran antara sang Presiden dengan Juru Bicaranya. Atau setidaknya seorang juru bicara mencermati gelagat dan gerak gerik presiden yang bisa dikomunikasikan kepada khalayak luas. Dari prosea ini juru bicara menerjemahkan keinginan dan harapan serta pikiran Presiden agar sisi ruang komunikasi dengan publik dapat terisi dengan baik.

Sayangnya, sebagai pemirsa televisi, pembaca media massa (cetak dan elektronik) sekaligus “penikmat” informasi di media sosial, rasa-rasanya, belum pernah sekalipun (atau sangat jarang sekali) saya menyaksikan Juru Bicara Presiden saat ini turut terlibat sebagai penyambung ide, gagasan dan (bahkan) perasaan Presiden yang disampaikan ke publik. Untuk menentramkan keadaan, seperti saat SBY menjadi Presiden RI.

*)Direktur Eksekutif Daerah DPD Partai Demokrat NTB 2011-2016