Suasana saat perajin batik menyampaikan aspirasi pada Partai Demokrat di Rapimnas Demokrat di SICC, Sentul 11 Maret 2018. (Foto: Abror Rizki)

Oleh: Cipta Panca Laksana*)

Di hari kedua Rapimnas Demokrat di SICC hari Minggu (11/3) lalu, ada sesi Rakyat Beraspirasi, Demokrat Beri Solusi. Ada 14 profesi yang dipilih untuk memberi aspirasi. Mulai buruh, guru honorer, tokoh agama, bidan desa, pedagang kaki 5, atlet, seniman, pelaku bisnis start up, nelayan, petani, penyandang disabilitas, penerima beasiswa bidik misi era SBY, pelaku UMKM dan terakhir perajin batik.

Semuanya menarik. Tapi saya akan cerita khusus di bagian perajin batik ini. Bukan karena yang menanggapi langsung Ibu Ani tapi saya tertarik cerita salah satu dari 5 perajin batik yang tampil di panggung. Si ibu mengaku perajin batik dari Solo. Saya lupa namanya.

Menarik, si ibu bercerita dengan logat Jawa yang medok di hadapan ribuan pengunjung. Gaya bicaranya spontan. Apa adanya. Si ibu mengeluh soal turunnya penjualan batik belakangan ini. Mungkin karena daya beli masyarakat menurun. Selain itu bahan baku agak sulit dan harga melambung.

“Kalau zaman Pak SBY, harga bahan naik juga sering, tapi kalau sekarang bukan lagi naik harga tapi tukar harga,” katanya memancing tawa hadirin.

“Kenapa saya bilang tukar harga? Karena bahan kain itu kalau naik 100, 200 sampai 500 rupiah per meter. Kalau sekarang bisa 2000 atau 3000 per meter. Itu namanya tukar harga, bukan naik harga,” ceritanya dengan logat medok.

Lantas si ibu bercerita kalau sekarang dia banyak dapat order dari Batik AHY. Istilah yang baru pertama saya dengar. Ya, ada istilah Batik AHY. Ternyata, setiap batik yang dipakai AHY menimbulkan rezeki untuk perajin batik.

Motif batik yang dipakai AHY selalu menjadi panutan. Masyarakat bahkan memilki istilah “batik AHY” merujuk pada motif-motif batik yang dipakai AHY. (Foto: Abror Rizki dan Luki Luk)

Ketika Anung Anindito, fotografer pribadi Pak SBY, yang pakai batik yang sama dengan yang digunakan AHY waktu bertemu Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, naik ke panggung, si ibu langsung teriak spontan. “Iya, ini batik AHY.”

Lalu si ibu bercerita dengan antusias. Waktu  AHY pakai batik ini dia langsung dapat pesanan 3000 potong.

“Itu semua toko-toko online langsung pesan. Kawan-kawan saya perajin juga banjir pesanan,” ceritanya antusias. “Karena itu saya pesan sama Mas Agus, harus lebih sering-sering pakai batik. Biar kami bisa banyak dapat pesanan. Selain itu Mas Agus akan lebih terkenal di seluruh Indonesia, karena orang-orang cari batik AHY,”  saran si Ibu disambut tawa peserta Rapimnas.

“Dulu waktu Pak SBY presiden, batik yang dipakai Pak SBY juga diburu orang. Batik warna indigo yang jadi ciri khas Pak SBY, itu semua produksi kami,” kata si ibu bersemangat.

Singkatnya, dari cerita si Ibu itu, saya baru tahu ada Batik AHY dan batik juga ikut menaikkan popularitas AHY. Dan tak langsung bisa membuka pintu rezeki para perajin batik yang saat ini menurun penjualannya karena ekonomi sedang mangkrak.

Selamat berbatik.

“Belilah batik dan dipakai,” pesan Pak SBY kepada para peserta Rapimnas.

*)Fungsionaris DPP Partai Demokrat

(dik)