Ferdinand Hutahaean (tvone/repro)

Oleh: Ferdinand Hutahaean*)

Teringat sebuah kalimat dalam kisah dimana ketika seseorang yang akan hanyut dan tenggelam, maka ia pun akan kalap meraih apa saja untuk berpegangan, bahkan batang jerami pun akan diraihnya untuk bergelantungan dengan harapan tidak akan hanyut atau tenggelam.

Begitulah tampaknya teori yang amat melekat dalam pikiran para si PENYIMPANG yang JAHAT untuk mencari ruang sembunyi dari kebenaran. Mengaitkan tali ke leher orang lain agar orang lain tercekik, atau melemparkan dirinya yang kerdil sembunyi di balik nama besar seseorang. Begitulah fitnah kemudian menjadi primadona pilihan para si penyimpang yang jahat itu berlindung di balik opini yang mengubur fakta kebenaran sesaat.

Terbaru kisah ini kembali menerpa Presiden Republik Indonesia Ke 6, yang juga saat ini adalah Ketua Umum Partai Demokrat, salah satu dari 3 orang Wise Person atau orang bijak yang dipilih oleh Perhimpunan Organisasi Negara-negara Islam (OKI) yaitu Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab dikenal orang dengan julukan SBY.

SBY sang tokoh besar di Republik ini telah dijadikan berbagai pihak untuk mencari ruang sembunyi dari kebenaran dengan cara melempar fitnah kepada SBY. Bukan sekali dua kali sejak SBY berakhir masa jabatan periode keduanya sebagai Presiden Oktober 2014 silam. Beruntun dan terus menerus diarahkan fitnah itu kepada SBY ketika ada pihak-pihak yang hidupnya menyimpang untuk ditutupi opininya dan ditutupi kebenarannya. Dengan kekuatan uang, kadang-kadang mereka para si penyimpang itu menggunakan kekuatan media untuk membesarkan fitnahnya dan mengkreasikannya sebagai opini yang dipropagandakan seolah kebenaran. Namun, sungguh bahwa fitnah tetaplah fitnah dan kebenaran akan terkuak pada waktunya.

Mari kita tarik sedikit ke belakang fitnah apa yang harus selalu dibesarkan dan dijual ke publik untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

Pertama adalah kasus Hambalang. Proyek ini telah mengakibatkan kerugian negara dan sudah menghukum oknum-oknum dari Partai Demokrat yang terlibat. Anas Urbaningrum, Nazarudin dan Angelina Sondakh adalah kader Partai Demokrat yang saat ini mendekam di penjara karena salah satunya kasus Hambalang. Mereka pun telah diberhentikan dengan tidak hormat dari Partai Demokrat. Sampai di situ harusnya selesai bagi Partai Demokrat dan tidak ada kaitannya kepada SBY yang saat itu sebagai Presiden Republik Indonesia karena Anas Urbaningrum-lah yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat kala itu. Lantas kenapa Hambalang terus-terusan disebutkan dan dikaitkan dengan SBY? Padahal tidak ada keterangan terdakwa maupun saksi yang menyatakan bahwa SBY terlibat atau menerima dana korupsi dari Hambalang. Inilah yang terus difitnahkan kepada SBY. Tampaknya fitnah itu dibutuhkan untuk terus digoreng karena ada nama lain yang belum mempertanggungjawabkan perbuatannya pada kasus Hambalang. Sebut saja Olly Dondokambey dan I Wayan Koster yang diduga terlibat dalam kasus Hambalang dan diduga menerima aliran dana dari kasus tersebut. Bahkan KPK telah juga melakukan penyitaan seperangkat furniture atau perabotan dari kediaman Olly yang diduga sebagai bagian dari suap tersebut. Lantas mengapa KPK hingga kini tidak juga mengusut tuntas perkara keterlibatan Olly dan I Wayan Koster? Apakah karena mereka berasal dari partai penguasa sekarang? Apakah untuk melindungi mereka maka opini dan fitnah harus terus diserangkan kepada SBY untuk menutupi fakta kebenaran? Hanya Tuhan yang tahu tentang itu, namun kita patut mempertanyakannya.

Kedua adalah terkait Antasari Azhar. Mahluk bernama Antasari ini adalah mantan Ketua KPK yang ditangkap polisi dan didakwa pengadilan atas keterlibatannya dalam kasus pembunuhan almarhum Nasrudin setelah terlebih dahulu dibumbui dengan cerita amoral sexual antara Antasari Azhar dengan Rani sang pemandu (caddy) golf yang kabarnya dekat dengan Nasrudin Zulkarnaen. Antasari Azhar sekali lagi dituduh dan didakwa sebagai otak pelaku pembunuhan Nasrudin, tapi kemudian Antasari Azhar pun bernyanyi bagai burung gagak hitam yang suaranya nyaring tapi menakutkan. Antasari memfitnah SBY adalah aktor yang mengkriminalisasi dirinya. Dengan tidak mengakui perbuatannya Antasari pun melempar dirinya yang kerdil ke balik baju SBY. Akhirnya pandangan publik seperti terarah kepada SBY. Antasari sukses menciptakan opini bahwa dirinya bukan otak pembunuhan tapi SBY lah yang mengkriminalisasi dirinya. Dalam hal ini SBY lewat kuasa hukumnya telah melaporkan Antasari ke Bareskrim Polri dengan tuduhan fitnah namun prosesnya masih jalan di tempat.

Ketiga dan terbaru adalah kemunculan Mirwan Amir dalam kasus korupsi EKTP. Dimana ketika di persidangan Setya Novanto menyebut bahwa dirinya pernah melaporkan dan meminta SBY menghentikan proyek EKTP tersebut namun tidak disetujui SBY. Sontak mata publik kembali tertuju kepada sosok SBY. Ruang publik kemudian ramai dengan perbincangan terhadap SBY dan akhirnya lupa bahwa ada 3 nama yang tiba-tiba menghilang dari dakwaan kasus EKTP seperti Ganjar, Olly dan Yasonna yang semuanya berasal dari partai penguasa sekarang. Tampaknya fitnah terkait SBY di EKTP itu pun diperlukan oleh para si penyimpang untuk menutupi fakta yang sesungguhnya. Mereka pun sukses sembunyi di balik nama SBY.

Cobalah kita telusuri sedikit tentang Mirwan Amir. Mirwan dulu adalah kader Demokrat sebagaimana juga dengan Anas Urbaningrum. Namun seiring Anas yang mendekam di penjara karena kasus korupsinya, kemudian Mirwan pergi pindah partai bersama kawan-kawannya yang patut diduga semuanya sekelompok dengan Anas Urbaningrum. Mirwan juga berdasarkan berita dari media disebutkan menitipkan perusahaan kepada Agustinus Andi Narogong untuk ikut proyek EKTP. Mirwan juga diduga menerima aliran dana sebesar 1,2 Juta Dolar Amerika dari kasus EKTP. Mirwan juga berdasar laporan PPATK pernah menerima aliran dana yang mencurigakan. Ternyata catatan ini semua butuh pengalihan opini, dan nama SBY paling disasar untuk menutupi semua keburukan itu. Fitnah pun kembali menjadi alat para si penyimpang untuk menutupi kebenaran dan memfitnah SBY adalah pilihan mereka karena SBY tokoh besar.

Dari berbagi peristiwa tersebut, memang  mereka telah sukses memfitnah nama besar SBY untuk menutupi kebenaran faktual meski hanya sesaat. Fitnah ini sangat merugikan nama baik SBY dan keluarga dan layak diganjar dengan hukuman.

Saya kutipkan sepotong kalimat doa SBY yang kami dengar langsung dari SBY terkait semua fitnah yang menyerang dirinya, ”YA ALLAH, BUKALAH SEMUA KEBENARAN, TUNJUKKANLAH SEMUA KEBENARAN AGAR FITNAH INI BERLALU.”

Dari situ saya yakini ketika SBY berani menyebut nama Allah dan meminta kebenaran dibuka, maka sesungguhnya SBY jujur tidak terlibat seperti yang difitnahkan.

Jakarta, 29 Januari 2018

*)Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP-PD; Komunikator Politik Partai Demokrat